Rabu, 16 Oktober 2013

GAWAT DARURAT


Penyebab Fraktur Tulang Leher
            Penyebab trauma yang terjadi pada tulang belakang servikal bervariasi. Pada kondisi klinik, riwayat trauma lalu lintas merupakan hal yang paling sering menyebabkan pasien mengalami cedera pada tulang leher. Penyebab trauma pada spinal dapat terjadi secara fleksi dengan manifestari distorsi (penyimpangan) spinal akibat perubahan dislokasi bagian anterior dan robeknya ligamen longitudinal bagian posterior (Gambar 1.1).
            Kecelakaan dengan posisi kepala terjatuh atau kondisi pergerakkan ekstensi mendadak akan memberikan manifestari robeknya ligamen longitudinal anterior dan kompresi pada diskus serta ligamen ligamen flavum posterior (Gambar 1.2)
                                      
 
 Gambar 1.1                                       Gambar 1.2

Pertolongan Pertama Untuk Fraktur Tulang Leher
            Setiap cedera kepala atau leher harus dievaluasi dengan fraktur servikalis. Sebuah fraktur servikal merupakan suatu keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan segera. Spine trauma mungkin terkait cedera saraf tulang belakang dan dapat mengakibatkan kelumpuhan, sehingga sangat penting untuk menjaga leher. Jika ada kemungkinan patah tulang leher, leher pasien tidak boleh digerakkan sampai tindakan medis diberikan dan X-ray dapat diambil. Itu jalan terbaik untuk mengasumsikan adanya cedera leher bagi siapa saja yang terkena benturan, jatuh atau tabrakan.
           
Pertolongan harus segera diberikan dan mintalah orang lain menghubungi gawat darurat.
Ø  Jangan mengubah kedudukan atau posisi leher korban. Pembuluh darah yang ada di sini besar dan penting, sehingga korban dapat cepat kehabisan darah ditempat dan stok. Tekanlah pembuluh darah itu pada pangkalnya.
Ø  Perhatikan pula bila ada pendarahan di tenggorokan. Bila ada maka bersihkanlah untuk melowongkan jalan nafas (airway). Bila pasien tampak sulit bernafas, berilah pernafasan buatan. Cukup dengan memberikan pernafasan mulut ke mulut. Tanda adanya suatu obstruksi (sumbatan) pada jalan nafas. Obstruksi pada jalan nafas ditandai dengan suara nafas antara lain bunyi gurgling (bunyi kumur-kumur yang menandakan adanya cairan), bunyi mengorok (karena pangkal lidah yang jatuh ke arah dorsal), ataupun bunyi stridor karena adanya penyempitan/edema. Tindakan penangannan apabila terdapat cairan yaitu dengan melakukan pengisapan jalan napas (suctioning) untuk mengeluarkan cairan, apabila didapatkan suara napas tambahan snoring (mengorok) maka lakukan penjagaan jalan napas secara manual dengan teknik jaw disusul dengan pemasangan pipa oro atau nasofaringeal. Jangan lakukan pemasangan pipa orofaringral (guedel/mayo) apabila penderita masih dalam keadaan sadar, karena menyebabkan pasien muntah. Harus diingat bahwa pemasangan pipa nasofaringeal merupakan kontraindikasi bagi penderita yang dicurigai fraktur basis kranii bagian depan karena pipa dapat masuk ke rongga kranium
Ø Letakan gulungan selimut dan bahan-bahan lainnya di bawah leher dan bahu penderita, sehingga posisi leher dan tubuh sejajar dengan kepala korban tetap anda topang dalam keadaan netral.
Ø  Setelah perdarahan dan luka dibersihkan, leher akan diberi balutan untuk membatasi gerakannya kemudian korban akan diangkat ke usungan yang beralas kayu. 

Referensi : Noor Helmi, Zairin.2012. Ortopedi.Salemba Medika : Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar