Penyebab Fraktur Tulang
Leher
Penyebab trauma yang terjadi pada
tulang belakang servikal bervariasi. Pada kondisi klinik, riwayat trauma lalu
lintas merupakan hal yang paling sering menyebabkan pasien mengalami cedera
pada tulang leher. Penyebab trauma pada spinal dapat terjadi secara fleksi
dengan manifestari distorsi (penyimpangan) spinal akibat perubahan dislokasi
bagian anterior dan robeknya ligamen longitudinal bagian posterior (Gambar
1.1).
Kecelakaan dengan posisi kepala
terjatuh atau kondisi pergerakkan ekstensi mendadak akan memberikan manifestari
robeknya ligamen longitudinal anterior dan kompresi pada diskus serta ligamen
ligamen flavum posterior (Gambar 1.2)
Gambar 1.1 Gambar
1.2
Pertolongan Pertama
Untuk Fraktur Tulang Leher
Setiap cedera kepala atau leher
harus dievaluasi dengan fraktur servikalis. Sebuah fraktur servikal merupakan
suatu keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan segera. Spine trauma
mungkin terkait cedera saraf tulang belakang dan dapat mengakibatkan
kelumpuhan, sehingga sangat penting untuk menjaga leher. Jika ada kemungkinan
patah tulang leher, leher pasien tidak boleh digerakkan sampai tindakan medis
diberikan dan X-ray dapat diambil. Itu jalan terbaik untuk mengasumsikan adanya
cedera leher bagi siapa saja yang terkena benturan, jatuh atau tabrakan.
Pertolongan
harus segera diberikan dan mintalah orang lain menghubungi gawat darurat.
Ø Jangan
mengubah kedudukan atau posisi leher korban.
Pembuluh darah yang ada di sini besar dan penting, sehingga korban dapat
cepat kehabisan darah ditempat dan stok. Tekanlah pembuluh darah itu pada
pangkalnya.
Ø Perhatikan
pula bila ada pendarahan di tenggorokan. Bila ada maka bersihkanlah untuk
melowongkan jalan nafas (airway). Bila pasien tampak sulit bernafas, berilah
pernafasan buatan. Cukup dengan memberikan pernafasan
mulut ke mulut. Tanda adanya suatu obstruksi (sumbatan)
pada jalan nafas. Obstruksi pada jalan nafas ditandai dengan suara nafas antara
lain bunyi gurgling (bunyi kumur-kumur yang menandakan adanya cairan), bunyi
mengorok (karena pangkal lidah yang jatuh ke arah dorsal), ataupun bunyi
stridor karena adanya penyempitan/edema. Tindakan penangannan apabila terdapat
cairan yaitu dengan melakukan pengisapan jalan napas (suctioning) untuk
mengeluarkan cairan, apabila didapatkan suara napas tambahan snoring (mengorok)
maka lakukan penjagaan jalan napas secara manual dengan teknik jaw disusul
dengan pemasangan pipa oro atau nasofaringeal. Jangan lakukan pemasangan pipa
orofaringral (guedel/mayo) apabila penderita masih dalam keadaan sadar, karena
menyebabkan pasien muntah. Harus diingat bahwa pemasangan pipa nasofaringeal
merupakan kontraindikasi bagi penderita yang dicurigai fraktur basis kranii
bagian depan karena pipa dapat masuk ke rongga kranium
Ø Letakan
gulungan selimut dan bahan-bahan lainnya di bawah leher dan bahu penderita,
sehingga posisi leher dan tubuh sejajar dengan kepala korban tetap anda topang
dalam keadaan netral.
Ø Setelah
perdarahan dan luka dibersihkan, leher akan diberi balutan untuk membatasi
gerakannya kemudian korban akan diangkat ke usungan yang beralas kayu.
Referensi : Noor Helmi, Zairin.2012. Ortopedi.Salemba Medika : Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar